News & Updates

Mengenal Sistem Budidaya Udang di Indonesia

Budidaya udang, terutama udang vaname, merupakan salah satu sektor unggulan dalam perikanan yang memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Indonesia sendiri termasuk dalam lima besar negara produsen udang dunia, bersama Ekuador, Tiongkok, India, dan Vietnam.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar, berbagai metode budidaya diterapkan di Indonesia. Berdasarkan infromasi yang dikutip dari PakanPabrik.com, secara umum, terdapat lima sistem budidaya udang yang dibedakan berdasarkan tingkat kepadatan tebar dan teknologi yang digunakan.

Kelima sistem budidaya tersebut mencakup: tradisional atau ekstensif, tradisional-plus, semi-intensif, intensif, serta super atau supra-intensif. Perbedaan pendekatan ini turut membentuk skala usaha budidaya, mulai dari skala kecil-menengah hingga skala industri besar.

1. Sistem Tradisional

Sistem ini merupakan metode budidaya yang paling sederhana. Biasanya dilakukan di kolam tanah yang cukup luas, sekitar satu hektar per unit tambak. Sistem tradisional ini mendominasi sekitar 93% dari total luas tambak di Indonesia, dengan estimasi luas mencapai 300 ribu hektare.

Meski rata-rata luasnya besar, produktivitasnya justru relatif rendah—sekitar 400 hingga 500 kg per hektar per tahun, atau jika diakumulasikan hanya sekitar 17% dari total produksi nasional. Produktivitas tambak tradisional cukup rendah karena menggunakan pdat tebar yang rendah juga (kurang dari 5 ekor per meter persegi). 

Sebagain petambak bahkan tidak menggunakan teknologi maupun pakan buatan. Nutrisi utama udang berasal dari pakan alami yang distimulasi melalui pemupukan dasar tambak. 

2. Sistem Tradisional-plus

Sistem tradisional-plus merupakan pengembangan dari tambak tradisional, dengan menambahkan sedikit kepadatan tebar, pemberian pakan, serta penggunaan teknologi sederhana seperti aerasi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan produktivitas yang semula hanya 400–500 kg per hektar per tahun menjadi sekitar 1–2 ton per hektar.

Gagasan sistem ini pertama kali dicetuskan oleh Forum Udang Indonesia (FUI) dan kini terus didorong penerapannya sebagai salah satu upaya untuk mendongkrak produksi udang nasional. Sistem ini sudah mulai digunakan di beberapa daerah seperti Sulawesi selatan, Sulawesi Barat, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Lampung.

3. Sistem Semi-intensif

Dibandingkan sistem lainnya, budidaya udang semi-intensif bisa dibilang berada di tingkat menengah—baik dari sisi kepadatan tebar maupun teknologi yang digunakan. Pada sistem ini, padat tebar biasanya berkisar antara 30 hingga 70 ekor per meter persegi, dengan hasil panen sekitar 4 hingga 8 ton per hektar setiap siklusnya.

Dengan kepadatan tersebut, petambak umumnya sudah menggunakan pakan pabrikan sebagai sumber nutrisi utama, serta kincir air untuk menjaga kadar oksigen terlarut di dalam kolam. Dari sisi konstruksi tambak, sistem ini cukup bervariasi—mulai dari tambak tanah, lapisan LDPE, hingga HDPE.

Sistem budidaya udang semi-intensif umumnya dijalankan oleh petambak skala menengah ke bawah. Metode ini juga banyak dipilih di daerah-daerah yang daya dukung lingkungannya mulai menurun, misalnya karena kualitas air yang sudah tidak optimal atau adanya riwayat penyakit yang cukup intens. Untuk menjaga produksi tetap berkelanjutan, para petambak biasanya menurunkan kepadatan tebar sebagai bagian dari strategi mereka.

4. Sistem Intensif

Tambak intensif adalah salah satu sistem budidaya udang dengan tingkat kepadatan tebar yang cukup tinggi, yaitu sekitar 80 hingga 250 ekor per meter persegi. Dengan sistem ini, produktivitas bisa mencapai 10 hingga 40 ton per hektar setiap siklusnya. Umumnya, kolam yang digunakan sudah dilapisi HDPE, dan dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul tren penggunaan kolam bundar.

Karena padat tebar yang tinggi menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar, tambak intensif idealnya dilengkapi dengan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk menjaga kualitas lingkungan tetap terjaga.

Agar proses budidaya berjalan optimal, petambak intensif juga mulai memanfaatkan berbagai teknologi modern—seperti penggunaan kincir secara intensif, autofeeder untuk memberi pakan otomatis, hingga aplikasi berbasis IoT (internet of things) untuk memantau dan mengelola tambak secara lebih efisien.

5. Sistem Super/supra-Intensif

Meski tidak banyak yang, sistem budidaya udang super atau supra-intensif mulai dikembangkan oleh sejumlah petambak dan perusahaan. Sistem ini menggunakan padat tebar yang sangat tinggi, antara 300 hingga 1.000 ekor per meter kubik, dengan hasil produksi yang juga besar, yakni mencapai 100–150 ton per hektar setiap siklusnya.

Tambak dalam sistem ini umumnya dibangun dengan konstruksi beton dan memiliki kedalaman hingga 2,7 meter. Selain itu, manajemen kualitas air sudah sangat terintegrasi untuk memastikan kondisi kolam dan lingkungan sekitar tetap optimal bagi keberlangsungan budidaya.

Mari Bekerja Sama

Untuk menjadi sukses, keinginan Anda untuk sukses harus lebih besar daripada ketakutan Anda akan kegagalan.